.

Bagaimana Kecerdasan Buatan Dapat Mendorong Kemampuan Berpikir Kreatif di Dalam dan di Luar Ruang Kelas

Bagaimana Kecerdasan Buatan Dapat Mendorong Kemampuan Berpikir Kreatif di Dalam dan di Luar Ruang Kelas

Selama bertahun-tahun, para pendidik membayangkan pembelajaran yang dipersonalisasi sebagai cara untuk menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan unik setiap siswa. Dengan kemajuan kecerdasan buatan, visi ini kini mulai menjadi kenyataan. AI memiliki potensi untuk mentransformasi ruang kelas dengan menghadirkan pengalaman belajar yang dipersonalisasi sesuai dengan kekuatan, minat, dan kebutuhan belajar masing-masing individu.

Pada saat yang sama, ada penekanan yang semakin besar pada pengembangan kreativitas dan keaslian karya siswa. AI dapat berperan penting dalam mendukung proses kreatif, mulai dari membangkitkan ide hingga menyempurnakan proyek. Dengan membuat proses kreatif lebih terlihat dan mudah diakses, AI membantu siswa mengatasi hambatan serta mengekspresikan perspektif unik mereka. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan, tetapi juga mempersiapkan siswa untuk masa depan, ketika kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah menjadi keterampilan yang tak tergantikan.

Brian Johnsrud - Direktur Pembelajaran dan Advokasi Pendidikan, Adobe
Brian Johnsrud - Direktur Pembelajaran dan Advokasi Pendidikan, Adobe
Baru-baru ini, EdSurge berbicara dengan Brian Johnsrud, direktur pembelajaran dan advokasi pendidikan di Adobe, tentang penggunaan alat pendidikan yang tidak hanya memanfaatkan kekuatan kecerdasan buatan tetapi juga menjunjung integritas kreatif siswa dan guru. Ia menyoroti bagaimana kecerdasan buatan dapat membantu mempersonalisasi pembelajaran dengan memfasilitasi siswa untuk mempresentasikan pemahaman dan ide mereka dengan cara yang beragam dan personal. Pergeseran dari tugas yang terstandardisasi ke proyek yang lebih personal ini dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan relevan bagi setiap siswa.

EdSurge: Bagaimana para pendidik dapat memanfaatkan kecerdasan buatan secara aman dan bertanggung jawab untuk pembelajaran yang lebih personal?

Johnsrud: “Mimpi tentang personalisasi pembelajaran sudah ada selama puluhan tahun. Fase pertama benar-benar berfokus pada menghadirkan konten yang tepat kepada siswa yang tepat pada waktu yang tepat. Sekarang, dengan AI, kita memasuki fase kedua, yang tidak hanya tentang mempersonalisasi konten, tetapi juga tentang bagaimana siswa menampilkan pemahaman mereka dan membagikan pengetahuan yang mereka miliki. Karena salah satu ciri utama kreativitas adalah keunikan. Jadi jika kita ingin siswa benar-benar melakukan pemikiran kreatif, maka 30 tugas yang dikerjakan oleh 30 siswa seharusnya semuanya terlihat berbeda.”

Dalam hal penerapan AI secara aman dan bertanggung jawab, saat ini sekolah-sekolah memperhatikan sejumlah hal. Langkah pertama adalah memeriksa apakah alat AI tersebut memang dirancang khusus untuk pendidikan. Jika tidak dibuat untuk konteks kelas, kemungkinan besar alat tersebut juga tidak dirancang untuk meningkatkan pembelajaran. Alat tersebut mungkin tidak memiliki elemen pedagogis yang terintegrasi, atau fitur aksesibilitas serta integrasi teknologi pendidikan lain yang dibutuhkan.

“Periksa apakah alat kecerdasan buatan tersebut benar-benar dirancang khusus untuk pendidikan. Jika tidak dibuat untuk ruang kelas, kemungkinan alat tidak dibuat untuk meningkatkan pembelajaran. Alat tersebut belum tentu memiliki elemen pedagogis yang tertanam atau aksesibilitas dan integrasi teknologi pendidikan lain yang Anda butuhkan.”

Brian Johnsrud

Direktur Pembelajaran dan Advokasi Pendidikan, Adobe

Salah satu aspek dari desain yang aman dan bertanggung jawab adalah memastikan bahwa alat tidak menggunakan karya siswa atau guru untuk melatih modelnya, karena karya kreatif yang dihasilkan di kelas harus dihormati dan dilindungi. Jika sebuah alat mengambil keuntungan atau terinspirasi dari karya kreatif Anda, maka hal itu tidak sepenuhnya selaras dengan nilai kreativitas dan integritas akademis.

Dengan cara apa kecerdasan buatan membantu mendorong kreativitas sekaligus memastikan karya siswa tetap autentik?

Kecerdasan buatan dapat mendukung setiap tahap dalam proses kreatif. Jika seorang siswa mengalami kebuntuan saat brainstorming, AI dapat membantu menghasilkan berbagai ide. Jika siswa lain bisa melakukan brainstorming dengan baik tetapi membutuhkan bantuan untuk menyempurnakan karyanya, AI dapat berperan sebagai teman berpikir yang memberikan masukan dan kritik. Inilah yang membuat menarik AI yang dirancang untuk kreativitas! AI menjadikan langkah-langkah dalam proses kreatif lebih jelas dan mudah dipahami, sekaligus membantu siswa mengatasi berbagai hambatan. AI juga mengurangi rasa takut terhadap kanvas kosong.

Saya berharap AI dapat membantu menggeser fokus dari guru sebagai pembuat konten ke siswa yang mengambil peran tersebut. Sebagai contoh yang terinspirasi dari pengalaman saya sebagai guru ilmu pengetahuan sosial, alih-alih meminta siswa menulis paragraf tentang kesinambungan dan perubahan dalam suatu era sejarah, Anda bisa meminta mereka memilih sebuah era, menentukan topik yang menunjukkan kesinambungan, lalu merancang poster propaganda imajiner dari periode tersebut. Manfaat dari tugas kreatif ini jelas bagi setiap pendidik. Namun, dengan standar yang kaku dan kurikulum yang padat, sulit untuk menyediakan waktu dua minggu untuk mengerjakannya. Kabar baiknya, dengan AI, Anda bisa menyelesaikan tugas ini hanya dalam 30 menit di dalam kelas.

Menariknya, di era AI saat ini kita justru semakin merindukan keaslian. Alat AI kini tidak lagi terbatas pada pendekatan “masukkan prompt lalu dapat hasil” yang serba instan. AI semakin terintegrasi ke dalam alur kerja kreatif kita, memungkinkan kita mewujudkan ide-ide terbaik dan mengekspresikan diri dengan lebih autentik. Tujuannya bukan agar AI mengerjakan semuanya untuk kita, melainkan membantu kita menciptakan konten yang lebih bermakna dan autentik sehingga kita bisa menjadi pencerita yang memberikan dampak. Sebagai guru, Anda seharusnya dapat melihat perspektif unik setiap siswa dalam karya yang mereka hasilkan.

“Tujuannya bukan agar AI mengerjakan tugas untuk kita, tetapi membantu kita menciptakan konten yang lebih autentik dan bermakna sehingga kita dapat menjadi pencerita yang memberikan dampak.”

Brian Johnsrud

Direktur Pembelajaran dan Advokasi Pendidikan, Adobe

Bagaimana literasi kecerdasan buatan dan pemikiran kreatif mempersiapkan siswa untuk tuntutan pasar kerja masa depan?

Dalam beberapa tahun saja, keterampilan AI telah menjadi kebutuhan penting. Laporan 2024 Work Trend Index menemukan bahwa 66 persen pemimpin industri tidak akan merekrut kandidat yang tidak memiliki keterampilan AI. Menariknya, hal ini dengan cepat menjadi faktor penentu dalam rekrutmen. Dalam laporan yang sama, 71 persen pemimpin mengatakan mereka lebih memilih kandidat yang kurang berpengalaman tetapi memiliki keterampilan AI dibandingkan kandidat yang lebih berpengalaman tanpa keterampilan tersebut. Bagi siswa, ini berarti keterampilan AI dapat menyamakan peluang mereka dengan para profesional yang lebih senior.

Pada saat yang sama, kreativitas dan kemampuan berpikir kreatif juga sangat dibutuhkan. Laporan World Economic Forum Future of Jobs 2023 menyoroti pemikiran kreatif sebagai salah satu keterampilan utama di masa depan. Ekonomi kreator juga berkembang pesat, dengan 200.000 pekerjaan kreatif baru yang tercipta di Amerika Serikat hanya pada tahun 2023. Siswa yang mampu menggabungkan keterampilan AI dengan pemecahan masalah secara kreatif dapat memanfaatkan berbagai peluang yang sangat besar.

Penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak siswa diberi kesempatan untuk berkarya, semakin besar pula peluang mereka untuk berkembang. AI membuka lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk berkreasi. Laporan Gallup tahun 2019 menemukan bahwa pendidik yang berfokus pada kreativitas dan menggunakan teknologi secara transformatif melihat peningkatan yang signifikan — siswa menjadi lebih terlibat, menunjukkan kemampuan berpikir kritis yang lebih baik, lebih banyak menyerap materi, mampu menghubungkan antar mata pelajaran, dan mencapai pembelajaran yang lebih mendalam. Bagi pendidik, melihat siswa antusias dan bangga terhadap karya mereka merupakan hal yang sangat bermakna, terutama di tengah meningkatnya kasus kelelahan kerja pada guru.

Bagaimana pendidik dapat memasukkan pemikiran kreatif dengan mudah ke dalam pelajaran mereka?

Mulailah dengan mengidentifikasi bagian di dalam kurikulum Anda di mana siswa perlu mendalami suatu konsep secara mendalam atau benar-benar menunjukkan pemahaman mereka. Inilah momen-momen ketika aktivitas kreatif dapat menggantikan metode tradisional seperti mencatat atau soal pilihan ganda, dan menghasilkan capaian pembelajaran yang jauh lebih luas dan mendalam.

Artikel ini diterbitkan pertama kali di EdSurge.

word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word word

mmMwWLliI0fiflO&1
mmMwWLliI0fiflO&1
mmMwWLliI0fiflO&1
mmMwWLliI0fiflO&1
mmMwWLliI0fiflO&1
mmMwWLliI0fiflO&1
mmMwWLliI0fiflO&1