Mengganti “mentalitas daftar tugas” dengan kegembiraan penemuan
Sebagai direktur Digital Gardener Institute di IU, Hodgson memimpin upaya seluruh sistem untuk meningkatkan literasi digital, kreativitas digital, dan pembelajaran digital di tujuh kampus dan pusat regional institusi tersebut. Ia membuka webinar dengan membagikan pengalamannya tentang “mentalitas daftar tugas” yang ia amati pada mahasiswa saat ini.
“Mereka memiliki anggapan bahwa jika Anda merinci apa saja yang harus mereka selesaikan, memberi tahu cara mengerjakannya, lalu mereka mengikuti instruksi tersebut persis seperti yang diberikan, mereka seharusnya akan berhasil dan dapat melanjutkanke tahap berikutnya,” ujarnya. Namun, menurut Hodgson, pendekatan seperti itu tidak mendorong pembelajaran yang bermakna, keterlibatan kritis, maupun penerapan konsep dan gagasan secara kreatif.
Akibatnya, Hodgson dan rekan-rekannya di Digital Gardener bekerja untuk mengonsep ulang pengalaman ruang kelas dan meningkatkan keterlibatan mahasiswa. Mereka menggunakan alat kreativitas digital seperti Adobe Express dan AI generatif Firefly di ruang kelas perguruan tinggi untuk menekankan inovasi, eksperimen, bahkan kegagalan. Pada akhirnya, tujuan mereka adalah membantu mahasiswa menikmati materi kuliah mereka, mencapai hasil pembelajaran, dan membangun keterampilan karier penting.
Untuk membantu mahasiswa memulai dengan alat baru seperti Adobe Express, Hodgson mendorong tiga jenis kegagalan produktif:
- Kegagalan cepat, yaitu ketika mahasiswa bereksperimen dan mengubah ide mereka menjadi sebanyak mungkin kreasi tanpa mengkhawatirkan kualitas karya.
- Kegagalan yang menyenangkan, yaitu ketika mahasiswa belajar untuk rileks dan menikmati momen-momen lucu saat mereka melakukan kesalahan.
- Kegagalan formatif, yaitu ketika Hodgson memberikan umpan balik kepada mahasiswa tentang karya final mereka sehingga mereka dapat belajar dan berkembang.
Selanjutnya, Hodgson mengajarkan keterampilan teknis yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk membuat presentasi kelas di Adobe Express dengan memberi mereka tugas yang ia namakan “taruhan rendah, dampak tinggi”. Mahasiswa membuat dan menyempurnakan gambar diri mereka dan menggabungkannya dengan teks dalam halaman web “Tentang saya” yang sederhana. Pada pertemuan kelas ketiga, semua mahasiswa sudah merasa nyaman berkreasi di Adobe Express.
“Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai materi perkuliahan,” ujarnya. “Jika mereka tidak siap untuk mengomunikasikan dan menuangkan pemikiran mereka melalui berbagai media, cara penyampaian, dan teknologi, mereka akan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam budaya yang kini jelas merupakan budaya pascadigital.”
Manfaat keterampilan kreatif yang dapat diterapkan di berbagai situasi
Selanjutnya, Hodgson mengundang Amogh Busnur, seorang mahasiswa sarjana ilmu kognitif, untuk membagikan pengalamannya ketika belajar menggunakan alat-alat kreatif Adobe.
Busnur mengatakan ia memilih mata kuliah Digital Literacy and Composition yang diampu Hodgson karena ia ingin berkomunikasi bukan hanya melalui tulisan. “Kami mengekspresikan narasi personal yang sama, tetapi melalui sarana digital, dan membangun keterampilan baru yang menurut saya akan sangat penting di zaman sekarang ini,” katanya.
Dalam waktu singkat, ia beralih dari membuat gambar dan halaman web menggunakan Adobe Express ke merancang poster penelitian yang kompleks di Adobe InDesign dan memproduksi video berkualitas tinggi dengan Adobe Premiere Pro.
“Satu-satunya alasan transisi ini dapat berlangsung dengan lancar adalah karena sejak awal perkuliahan kami sudah dibekali dasar-dasar komunikasi visual kreatif, termasuk cara memadukan teks dan gambar untuk menyampaikan narasi kami sendiri,” ujarnya. “Setelah mempelajari berbagai keterampilan digital tersebut di kelas Profesor Hodgson, saya dapat menerapkannya di setiap mata kuliah yang saya ambil setelahnya.”
Selain membuat tata letak dan video yang membuat penelitian dan idenya menonjol, Busnur menggunakan keterampilan barunya dalam pekerjaan sampingannya sebagai konsultan penerimaan mahasiswa dan dalam proyek pribadi, seperti undangan ulang tahun pernikahan untuk kakek-neneknya dan Reel liburan untuk Instagram.
Ia mengatakan bahwa ia menghargai kemampuannya untuk mewujudkan idenya dengan alat-alat digital. “Jika Anda mampu merealisasikan ide Anda sendiri, dan itu bisa dilakukan dengan menguasai berbagai alat digital ini, semuanya menjadi berbeda. Anda dapat menciptakan sesuatu yang benar-benar sesuai dengan keinginan Anda dan benar-benar mencerminkan gagasan yang ingin Anda sampaikan.”
Strategi scaffolding membangun keterampilan dan motivasi, sehingga menciptakan lebih banyak peluang
Selanjutnya, Hodgson membagikan tugas yang ia beri nama “Forrest Gump”, di mana ia meminta mahasiswa untuk menambahkan foto mereka sendiri ke dalam foto-foto lama dari momen budaya atau sejarah penting sehingga mereka dapat menempatkan diri mereka dalam konteks tersebut dan mengeksplorasinya dari sudut pandang narasi atau pengalaman orang pertama.
Ia dan Busnur menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat menggunakan Adobe Express dan AI generatif Firefly untuk menggabungkan diri mereka ke dalam gambar-gambar sejarah, membuktikan kemudahan dan kecepatan aktivitas tersebut.
Tugas ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam kurikulum perguruan tinggi, tetapi pendekatan scaffolding memang sangat efektif. Busnur berkata, “Saat Anda memahami hal-hal dapat dilakukan oleh alat-alat tersebut dan Anda mengintegrasikannya ke dalam pekerjaan Anda dan melihat betapa bergunanya alat-alat tersebut sebagai pelengkap, Anda akan termotivasi untuk belajar lebih banyak.”
Hodgson percaya bahwa keterampilan digital kreatif sangat penting untuk kesuksesan masa depan mahasiswa, dan ia serta rekan-rekannya akan terus bekerja untuk mengintegrasikan AI generatif di ruang perkuliahan. “Pekerjaan baru tidak sepenuhnya sejalan dengan bidang ilmu kita,” katanya. “Jadi hal terbaik yang menurut saya dapat kita lakukan adalah tidak hanya mengajarkan keahlian disipliner, tetapi membantu mahasiswa memahami cara mengomunikasikan keahlian tersebut atau memanfaatkan sudut pandang tersebut untuk berpikir sebagai cara berinteraksi dengan dunia dan merepresentasikannya melalui praktik yang ramah digital.”
Untuk detail lebih lanjut, tonton ulang webinar dan jelajahi presentasi webinar Profesor Hodgson.
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang meningkatkan keterlibatan mahasiswa dan membangun kesiapan karier dengan teknologi kreatif baru, mendaftarlah untuk mengikuti sesi webinar Adobe Express + Firefly mendatang kami.